Senin, Juli 23, 2012

KEPERGIANKU


KEPERGIANKU


sudah kurentangkan
jalan setapak ke puncak
gunung berbunga itu
dengan sehelai selendang dan
cemeti aku menggeret takdir
menjadi tandu
gugur bunga pada sepi

Malang, 2003 (hamiddin)

KEHADIRANKU


KEHADIRANKU


Dinding waktu menyusun
sejarah, aku muntah
dari rahim ibu

Sesobek kain sarung
melumat tubuhku
tangisku bagian rerumputan
yang mengering di halam takdir

Malang, 2003 oleh: hamiddin

UNTUK APA KAU DATANG KESINI


UNTUK APA KAU DATANG KESINI

(dimuat dihorison tahun XXXXI, No. 9/2006, September 2006)

Kulit bumi mengelupas
larut dalam keheningan air matamu
Embun berbondong-bondong mengiris
kesunyian cagak langit
Aku menyusup di keremangan
kabut itu mencari trotoar
di ladang-ladang rindu

api memuntahkan kata-kata
tiap hurufnya adalah cuaca
dan serbuk musim menjelma
putik-putik nasib di kantong-kantong senja

“untuk apa kau datang kesini”
katamu

Malang, 2003 (hamiddin)

IBU 2


IBU 2
Oleh Hamiddin

air yang mengalir dan bermuara
pada air matamu
mengajariku mengenal batu-batu
ketika keinginan kanak-kanakku
kutambatkan di atasnya

matahari yang menuliskan harapmu
semakin pudar ditelan deru debu
dan angin yang kau poskan padaku
sudah kuungsikan di gubuk-gubuk waktu

Ibu, musim apakah ini?
Kenapa ladang-ladang jagung
Belum kuncup-kuncup juga?

Malang-Luk-Guluk, 5 Pebruari 2003

PAGI: SECANGKIR KOPI


PAGI: SECANGKIR KOPI
Oleh Hamiddin

Matahari merambat di dinding pagi
Sepenggal doa kurebahkan bersama hati
Sementara dunia sibuk mengais rejeki
Yang lain duduk bersimpuh mencari mimpi

Dalam balutan dingin
Jiwa-jiwa ganjil dalam gigil
Seperangkat doa diberangkatkan
Ketika harapan meniti titik nihil

Pagi ini, kata-kata menguap dalam percakapan
Perlahan lindap dalam kesibukan
Sebait lirik aku tulis di atas roti
Berharap mimpi bisa kulengkapi dalam secangkir kopi

Malang, 16 Juni 2012 (hamiddin: puitika.com)