Jumat, Juli 06, 2012

PAGI: SECANGKIR KOPI


PAGI: SECANGKIR KOPI

Matahari merambat di dinding pagi
Sepenggal doa kurebahkan bersama hati
Sementara dunia sibuk mengais rejeki
Yang lain duduk bersimpuh mencari mimpi

Dalam balutan dingin
Jiwa-jiwa ganjil dalam gigil
Seperangkat doa diberangkatkan
Ketika harapan meniti titik nihil

Pagi ini, kata-kata menguap dalam percakapan
Perlahan lindap dalam kesibukan
Sebait lirik aku tulis di atas roti
Berharap mimpi bisa kulengkapi dalam secangkir kopi

Malang, 16 Juni 2012 (hamiddin)

PELUK PADA TELUKMU


PELUK PADA TELUKMU
Oleh: Hamiddin

Ketika tubuhku terbaring
Kau titipkan rasa hening
Nafiri airmata tak bisa berpaling
Hanya gumpalan doalah yang penting

Ketika jalan sudah pulang
Menepilah bayang-bayang
Di pucuk doa rinduku berpetualang
Siapa tahu masih ada peluang

Yang Maha Rasa
Aku lunglai tak berdaya
Gumpallah aku dalam pelukmu
Dan sandarkan aku pada telukmu

Malang, 21 Juni 2012

KARTU MERAH CINTA


KARTU MERAH CINTA

Dari sudut 90 derajat
Kau lengkungkan gumpalan-gumpalan hatimu
Untuk kurangkul dengan sarung tangan penuh rindu
Kutangkap kau dalam dekap

Ketika peluit kau tiup
Perlahan kuramu jalan menuju titik temu
Antara kau dan aku dalam pertemuan Pinalty
Kupasang isyarat ilalang agar aku tahu kau datang

Kartu kuning telah berlalu
Aku harus sabar menunggu
Tak boleh mengoresmu
Kalau tidak ingin tamat riwayatku

Dalam 30 menit
Aku harus menemuimu
Meski sempit dan sulit
Kuharus melesatkan goal rinduku

Sayang...
Keluarkan kartu merahmu
Agar kita lebih sering bertemu

2 Juli 2012 (ibnu_syam)

AKU BISA MENEMANIMU


AKU BISA MENEMANIMU

Selamat datang matahari
Pagi ini aku tak sibuk untuk bersamamu
Hingga rinduku tak lagi berburu
Dunia dan fatamorgana

Jika siang ini jalan-jalan sepi
Mungkin nasib sedang menghibur diri
Mencari ruang untuk menampung gelisah
Setelah seminggu sibuk dan pasrah

Selamat datang matahari
Sore ini mungkin aku tak sibuk
Untuk menemanimu menemui malam
Dan kita akan menikmati ribuan bintang
Sembari bersujud menancapkan ilalang
Agar besok kita bisa memungut riang
Di sawah atau pematang

Ibnu_syam 10/06/2012

MONOLOG DIGITAL

Monolog Digital
oleh Hamiddin

Wajah-wajah digital
dan otak rumus nominal
melantakkan syair-syair rindu
yang dilantunkan setiap windu
kemana aku berpaling
jika percakapan adalah layar kaca
dan pertemuan hanya di dunia maya

Wajah-wajah online
dan hati beralamat email
mengusik lantunan cinta
yang dikumandangkan di luar jendela
Kemana aku berbagi
Jika prolog menjadi premium
Dan epilog harap maklum

Malang, 14 Juni 2012 (hamiddin)

CELOTEH BURUNG

 Celoteh Burung
oleh: Hamiddin

Pagi rebah di raut matahari
Burung-burung berdendang menuai sunyi
Kawan datang, diam tak berkicau
Kawan pergi, fitnah arisan lagi


Di gerbang pagi melati semerbak dengki
Burung kapodang menabung iri
Melihat manusia yang berbasa-basi
Demi gelar yang tak pernah syukuri

Demi waktu
Burung-burung itu bersimpuh doa
“Laparkan saja perut dan paruhku
Tapi jangan runcingkan iri dengkiku
Paraukan saja suara merduku
Tapi jangan kusutkan hati dengan hasut fitnahku, amin.”

Ketika sore menjarah mimpi
Rangkul sayapku wahai matahari
Agar hati dan pikiranku senantiasa suci
Untuk menjadi manusia sejati

Malang, 4 Juli 2012

RISALAH SURAU
oleh Ibnu syam (Hamiddin)

Dulu…
Rumahmu adalah surau
Aroma alifmu terangkum di pucuk-pucuk tembakau
Dari bilik-biliknya, mengalunlah nafiri

Rumahmu masih surau
Dalam lembaran-lembaran kitabmu lahirlah matahari
Yang hangatnya adalah pagi
Bagi kampungku yang sepi

Kemudian ….
Rumahmu adalah kampung
Ada lurah, carik dan kepala suku

Mengaji, belajar kitab dan berdiskusi
Sembari berjuang demi ibu pertiwi
Rumahmu adalah kota
Jalannya aspal, listrik benderang
Ada bupati, priyayi dan politisi
Tak hanya mengaji dan mengais rejeki,
Sebagian sibuk berebut gaji

Sekarang….
Kampungmu adalah teknologi
Separuh qur’an separuh koran
Separuhnya lagi melepaskan diri
Dari tradisi sebagai santri

24-08-2008 – 2010

MAU JADI APA AKU INI?

MAU JADI APA AKU INI?
Oleh: Hamiddin

Aku menyuruh anakku sekolah
Tapi aku jarang kuliah

Aku menyuruh anakku belajar
Tapi aku sering kurang ajar

Aku meminta anakku jujur
Tapi aku mencari dalih dalam bertutur

Aku meminta anakku teguh pendirian
Tapi aku selalu plin plan

Aku mengajari anakku kognitif
Tapi aku sering bergosip

Aku mengajari anakku sholat
Tapi perilakuku tak merakyat

Aku menyuruh anakku puasa
Tapi aku selalu berburuk sangka

Aku mengajari anakku mengaji
Tapi aku diam-diam korupsi

Aku menyuruh anakku berbudi pekerti
Tapi aku sering ngerasani orang karena benci dan iri

Aku menyuruh anakku berbagi
Tapi aku selalu berfikir untuk memberi

Aku menyuruh anakku menulis puisi
Tapi aku tak punya hati

Mau jadi apa aku ini?

Malang, 7 Juni 2012

Sabtu, Juli 25, 2009

DIANTARA WAKTU

DIANTARA WAKTU
pro: Uly

di rimbun ilalang
angin menyemai merahnya senja
dari tatapan matanya yang sayu
dan warna matanya yang biru
ia menunggu waktu

dua tahun lalu
ia mampir di bilik rindu
bersama merahnya jambu
ia berharap selalu

setelah musim beranjak dewasa
dan matahari sehangat senyumnya
aku ingat juga
aku meski membalas emailnya.....
"salam kenal, namaku Uly, kerja di Hongkong, sudah lama mencarimu, berharap bertemu meski di dunia semu...", tuturnya.
"aku senang baca puisimu, terutama tentang ibu", lanjutnya.
"siapa sih kamu, benarkah kau suka sajak-sajakku, aku hanya seorang laki-laki, yang mencoba gemar menulis puisi", dalam hatiku...

tadi malam
di antara langit yang temaram
dan ketika magrib mengendap di pinggir-pinggir jalan
"selamat malam wahai Penunggu, inilah waktu untuk menyapa salammu, ma'af kalau kamu
terlalu lama menunggu waktuku".
Ul....
di kelamnya malam itu
sudahkah aku usap serpihan-serpihan penasaranmu?

Malang, 25 July 2009.

Senin, Februari 20, 2006

Beberapa Puisi

PADAMU

malam pada mimpi
pagi pada cari
sore pada pergi
padamu aku tepi

Luk-guluk, Pebruari 2006


PERGI DARIMU

Pergi darimu
tanah dan batu mengeras menjadi gelisah
Menepi darimu
laut merebak menjadi ombak
Mengungsi darimu
tapi angin tak memberiku ingin


Luk-guluk, Pebruari 2006

PERJALANAN
: Yaya’

Sepanjang jalan Papringan - Janti
lampu-lampu memeram temaram
bayangan dan cahaya berebut ruang
sementara kau-aku sibuk mengendapkan kerinduan
pada kepingan trotoar

Di atas kucuran keringat
pengayuh becak Jogja
gigir roda menggelinding
hingga kutub
halte

di halte,
debu-debu cemas menunggu jam
sebelum subuh luruh
kita harus sampai di terminal
tempat melepas letihnya percakapan

Malang, 9 Pebruari 2006



DI KOTA BERKABUT

Di kota berkabut
kenangan mengendap di sepanjang jalan
ketika raut oval terpaut di jendela
pagi sudah membuka mata

Di kota berkabut
semua terangkul dalam gigil
kuusap embun di matamu
yang menetes menjadi salju

Di kota berkabut
matahari padam
angin memilih diam
yang terbagi hanya tikam


Malang, 8 Pebruari 2006